Salam Wortel…
Suatu sore, saya merasa lapar. Lalu saya pergi ke kios Bibi saya dan membeli, oh, yang betul mengutang sebuah mi instan, dan saya memintanya untuk memasaki saya (udah ngutang nyuruh lagi…!!!). Tapi itu karena ada alasannya, Bibi saya sangat pandai membuat mi goreng instan. Dan saya lebih tidak tahu diri lagi ketika meminta Bibi saya mengantarnya ke rumah kalau mi itu sudah jadi (kan bersebelahan).
Mi sudah jadi dan siap disantap. Saya memakannya tidak di meja makan, karena saya memang tidak suka makan di meja makan. Saya makan di ruang keluarga sambil menonton tivi dan saya lupa acara tivi apa yang sedang tayang. Nah, pada suap pertama, saya menggerutu. Kenapa sih rasanya mi goreng itu tak pernah berubah, selalu begini. Lalu suapan kedua, ketiga, dan seterusnya saya menggerutu terus. Bukan karena tidak ada lau di rumah. Lauk sangat banyak, bahkan enak-enak, namun sekali lagi saya terlalu angkuh, mengatakan bahwa saya bosan dengan lauk-lauk yang ada.
Ketika mi saya hampir habis, maka acara tivi berubah menjadi acara tivi yang menguji kebaikan manusia tanpa pamrih. Pastilah anda semua tahu. Dan saya merenung sambil memandang mi goreng yang hampir habis itu. Dan saya petik hikmah dalam keritingnya mi goreng itu.
Saya memang angkuh dan sombong. Saya terlalu egois dan memikirkan diri sendiri. Bagaimana saya bisa menjadi orang baik, jika saya mengeluh bosan dengan lauk yang serba ada dan memilih mi goreng (yang biasanya saya sebut makanan pengungsi). Dan saya memakan mi goreng itu, saya juga merasa bosan, hingga acara tivi itu menyadarkan saya. Orang yang tak mampu saja, yang makan hanya dengan nasi dan sambal terasi mau berbagi dengan yang membutuhkan, bahkan dia mungkin tak bisa mencicipi mi instan yang harganya seribu-an perak ini.
Sedangkan saya? Sudah ngutang, minta dimasakin, minta dianterin, menggerutu, dan saya memang orang yang tak berguna. Tak pernah bersyukur atas apa yang diberikan kepada saya. Saya selalu lupa diri. Hingga mi goreng dan acara tivi itu menyadarakan saya. Saya selalu menonton acara itu dan menangis karenanya, tapi tak pernah saya memetik hikmahnya hingga saya menontonnya sambil memakan mi goreng ini.
Semua hal, semua benda yang kita anggap sepele ternyata mempunyai filosofi yang sangat bermakna untuk hidup kita. Dan saya berusaha untuk mencari itu, mencari cara agar selama saya hidup di dunia ini, saya tak sia-sia menjalaninya. Harus lebih belajar dan belajar lagi. Seperti peribahasa yang kita semua tahu “Semakin diasah, maka pisau semakain tajam”…
Salam Wortel… ^__^
